Peran Perempuan dalam Penyelesaian Sengketa Tata Batas Desa
Peran Perempuan dalam Penyelesaian Sengketa Tata Batas Desa
  • DGM Indonesia (A)
  • November 27, 2018
Gambar dari judul : Peran Perempuan dalam Penyelesaian Sengketa Tata Batas Desa

Desa Gerduren adalah salah satu Desa di Kabupaten Banyumas, salah satu Desa dampingan dari Yayasan LPPSLH, penerima dana hibah dari Project DGM Indonesia. Di desa ini kegiatan yang telah mereka lakukan salah satunta melatih warga tentang bagaimana perempuan memiliki peran aktif dalam pelaksanaan, pengelolaan serta penerima manfaat secara langsung dan tidak langsung dari project tersebut.


Paska dilakukan pelatihan tentang “Gender” pada bulan lalu, intensitas perempuan dalam mengikuti semua proses kegiatan proyek yang dilakukan di Desa Gerduren semakin meningkat. Selain pelatihan ‘Gender’ warga juga mendapat pelatihan advokasi dan pelatihan pemetaan.


Terlihat dari tim pelaku pemetaan pada 23 November 2018 lalu, terdapat  kurang lebih 10 (sepuluh) orang perempuan yang turut serta dalam mengambil titik batas hutan dan Desa. Mereka menyerap pembelajaran tentang bagaimana perempuan mampu menyelesaikan sengketa tata batas yang dialami oleh masyarakat di Desa Gerduren, dengan Desa Kelapa Gading, dan Desa Banteran di Kecamatan Purwojati, Kabupaten Banyumas.


Barid Hardiyanto selaku pendamping dari Yayasan LPPSLH menjelaskan bahwa sengketa tata batas itu sudah ada dalam pembicaraan warga selama 20 (dua puluh) tahun. Namun dengan proses ini, sengketa tersebut terselesaikan. Hal ini berkat pengetahuan dan cara pendekatan yang dilakukan oleh perempuan yang masuk dalam tim pemetaan dengan cara mempertemukan perwakilan dari kedua Desa.


Atas dasar pengetahuan dan cerita tentang sejarah sengketa tersebut. Dalam waktu singkat, kesepakatan didapatkan melalui musyawarah yang juga dihadiri oleh Babinsa. Perwakilan dari Desa Kelapa Gading dan Desa Banteran dengan suka rela menyatakan bahwa tanah yang disengketakan itu adalah sah milik dari Desa Gerduren. (Surti Handayani/NSC DGM-Indonesia, Representasi Perempuan Adat).