Support Mission WB untuk DGM-I di Sumbawa
Support Mission WB untuk DGM-I di Sumbawa
  • DGM Indonesia (A)
  • January 28, 2019
Gambar dari judul : Support Mission WB untuk DGM-I di Sumbawa

Tim World Bank (WB) bersama National Executing Agency/NEA, Nastional Steering Committee/NSC dan AMAN Sumbawa saat mengikuti Support Mission WB, 7-11 Januari 2019. Foto : Andhika/Samdhana.

Badan Pelaksana Nasional (National Executing Agency/NEA) dalam hal ini Samdhana Institute,  bersama Perwakilan Steering Committee (National Steering Committee/NSC) mengadakan pertemuan dengan World Bank (WB) terkait Proyek Mekanisme Hibah Khusus untuk Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal (DGM-I). Pertemuan yang juga disebut sebagai Support Mission WB itu berlangsung di Sumbawa pada 7-11 Januari 2019.

Pertemuan ini merupakan pertemuan 6 bulanan ke tiga setelah dimulainya program DGM-I pada bulan Juni 2017, sekaligus kunjungan pertama ke lapangan mitra program DGM-I. Lokasi yang dipilih adalah lokasi kerja subproyek DGM-I AMAN Sumbawa.

Anggota NSC wilayah Bali, NTB dan NTT,Lalu Prima Wira Putra membuka secara resmi pertemuan yang dipusatkan di Samawa Seaside Cottage, Sumbawa.

Ada 3 komponen kerangka kerja DGM-I yang dibahas saat itu. Pertama adalah komponen Hibah kepada Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal (MAKL) untuk mendukung kepastian penguasaan tanah dan sumber daya alam oleh MAKL. Kedua adalah kegiatan-kegiatan terkait proses dan dialog kebijakan dalam kepastian hak tenurial maupun program kehutanan mendukung REDD+. Komponen ke 3 berupa kegiatan-kegiatan terkait pengelolaan program, monitoring, evaluasi dan Pengembangan Lembaga.

Andhika Vega Praputra dari Samdhana memaparkan capaian  selama periode Juli-Desember 2018. Sementara itu, perkembangan pengamanan lingkungan dan social (ESMF) dari setiap mitra dan penanganan pengaduan keberatan disampaikan oleh Dr. Ahmad Kusworo bersama Rizqiah Mak’mur. Pelaporan ESMF ini dilakukan untuk memastikan hibah tidak menimbulkan masalah Lingkungan dan Sosial.

Selanjutnya dengan dipandu Ketua BPH AMAN Sumbawa, Jasardi Gunawan dan Mohammad Yamin, peserta melakukan kunjungan ke masyarakat adat Cek Bocek Selesk Rensury di Desa Lwain dan masyarakat adat Bakalewang Kanar di Dusun Kanar, Desa Labuhan Badas. Kunjungan ini bertujuan melihat keberlanjutan manfaat dari proyek DGM-I dapat terus dirasakan oleh masyarakat dan lingkungan. Cerita kunjungan dapat dibaca di Kunjungan Lapang Support Mission DGM-I di Sumbawa.

Sebelumnya juga dilaksanakan pertemuan dengan KPHP unit IX Puncak Ngengas Batulanteh sebelum melakukan kunjungan lapang ke Desa Labuhan Badas. KPHP Puncak Ngengas Batulanteh diwakili oleh Kepala Seksi Perencanaan dan Pemanfaatan Hutan, Habibi, S.Hut. Dalam paparan singkatnya, Dr. Martua Sirait menjelaskan sekilas apa itu DGM-I, dilanjutkan dengan perkenalan dan penjelasan dari World Bank, AMAN Sumbawa dan KPHP Batulanteh sendiri.

Secara khusus AMAN Sumbawa menjelaskan kemajuan kegiatan program  pada masyarakat adat Cek Bocek Selesek Rensury, Bakalewang Kanar, Pusu, Pekasa, Usal Ponto Ai Padeng, Koweng Tatar, dan Pedukuhan Talonang serta menjabarkan rencana kegiatan yang akan dilakukan selanjutnya.

Dinesh Aryal dari World Bank menjelaskan bahwa World Bank sebagai administrator, mendukung pengelolaan dua program terkait pengelolaan hutan di Indonesia, yaitu DGM-I, yang dilaksanakan oleh Samdhana Institute dan Forest Investment Program (FIP) 2 yang dilaksanakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama beberapa KPH termasuk didalamnya KPH Batu Lanteh. Tujuan kedua program DGMI dan KPH adalah memperkuat pengelolaan hutan oleh masyarakat, akan tetapi keduanya bekerja pada tataran yang berbeda. DGMI bekerja dengan kelompok masyarakat adat dan masyarakat lokal, sedangkan FIP bekerja dengan KPH untuk tujuan yang sama memperkuat pengelolaan sumber daya hutan berbasis masyarakat. Koordinasi di tataran program  dan tataran lokasi terus digiatkan untuk mencapai tujuan yang diharapkan yaitu mendukung pengelolaan hutan berbasis masyarakat.

AMAN Sumbawa dan KPHP Puncak Ngengas Batulanteh telah berkomitmen untuk melibatkan masyarakat adat dalam pengelolaan hutan, khususnya dalam DGM-I ini adalah komunitas adat Bakalewang Kanar yang wilayah adatnya beririsan dengan wilayah kerja KPHP Puncak Ngengas Batulanteh. (Patti Rahayu)