Pelatihan Pengelolaan Dana Hibah Tahap II
Pelatihan Pengelolaan Dana Hibah Tahap II
  • DGM Indonesia (A)
  • September 06, 2019
Gambar dari judul : Pelatihan Pengelolaan Dana Hibah Tahap II

Peserta Lokalatih berfoto bersama setelah pelatihan selama 5 hari di Jakarta. Lokalatih Pengelolaan Proyek DGM-I diselenggarakan oleh NEA/Samdhana Institute diikuti 14 Mitra DGM-I Tahap II. Foto : Anggit/Samdhana.

Setelah ditetapkannya penerima kertas konsep DGM Indonesia (DGM-I)  Tahap II  oleh komite pengarah nasional (National Steering Committee/NSC) pada 24 Mei 2019 lalu, dilanjutkan lokakarya penyempurnaan proposal pada 24 – 28 Juni 2019. Mitra DGM-I pada tahap ke-2 diberi pembekalan pengetahuan dan ketrampilan mengenai pengelolaan proyek dan parameter kerangka kerja. Khususnya terkait analisis ruang hidup dan penghidupan dengan perspektif gender dan inklusi sosial). Pembekalan dilakukan melalui Lokalatih Pengelolaan Proyek DGM-I oleh Samdhana Institute selaku pelaksana nasional (National Executing Agency/NEA) di Jakarta, 2 – 6 September 2019.

Selain itu, pelatihan yang diikuti 26 peserta dari 13 organisasi mitra tersebut juga memberikan pembekalan pelaporan narasi dan keuangan yang lengkap. Tujuannya supaya mitra memiliki kapasitas yang memadai dalam menjalankan proyeknya sesuai dengan prosedur termasuk prosedur operasional yang disetujui donor.

Dibuka oleh Dr. Martua Sirait, Deputi Direktur Eksekutif Samdhana di Indonesia yang dilanjutkan dengan paparan mengenai Panduan Monitoring Resiko dalam pengelolaan Proyek. Sekaligus penyampaian materi Penanganan Konflik Tenurial secara Damai. Dalam sesinya Pak Martua menekankan pentingnya penguasaan masalah, baik dengan alat identifikasi seperti SWOT, PAR, RATA, Data Base dan lainnya, untuk memberi alas pijak basis penguasaan atas tanah dan sumber daya alam yang dapat dipertanggung jawabkan.

”Sering kali dengan pemahaman kita akan akar konflik sumber daya alam, kita langsung ingin menyelesaikannya, padahal diperlukan satu lagi perangkat penting, untuk memahami gaya para pihak menghadapi konflik, perangkat AGATA (Analisis Gaya Bersengeketa) diperlukan untuk memastikan cara para pihak menghadapi dan menyelesaian konflik ditempuh secara damai dan tidak mencuat dalam bentuk kekerasan, baik kekerasan fisik maupun verbal, guna mencapai penyelesaian yang hakiki,” terang Martua.

Lokalatih penyusunan laporan keuangan, narasi dan pengelolaan Hibah dirancang menyesuaikan dengan kebutuhan mitra dan juga mempertimbangkan jadwal pelaporan. Setiap mitra didampingi secara intensif untuk melakukan pencatatan, pengelolaan dan pelaporan keuangan. Pada sesi yang difasilitasi Hadi Prayitno, akuntan dari Bina Integrasi Edukasi, peserta diajak memahami Dasar-dasar Pengelolaan Keuangan, Pajak, dan Standar Pelaporan, sampai dengan materi Pengendalian Internal dan bagaimana memahami fraud.

Selain itu NEA juga memberikan materi dan pendampingan bagaimana melakukan pengisian laporan monitoring dan evaluasi, laporan kemajuan narasi serta panduan pelaksanaan pelatihan.

Terkait bagian dari komitmen Samdhana untuk mengarus utamaan gender dan inklusi sosial dalam organisasi. Lokalatih ini juga memberikan materi terkait analisis ruang hidup dan penghidupan dalam perspektif gender dan inklusi sosial. Lokalatih ini secara khusus juga akan memperkenalkan panduan analisis ruang hidup dan penghidupan dengan perspektif GESI (Gender Equity and Social Inclusion).

Lokalatih pada 2 – 6 September ini merupakan bacth pertama yang diikuti 14 dari 29 mitra DGM-I tahap ke-2. Mereka adalah Jaringan Komunitas Masyarakat Adat (JKMA) Aceh, AMAN Wilayah  Tano Batak - Sumatera Utara, Perkumpulan Q-BAR - Sumatera Barat, AMAN PW SEKADAU (Konsorsium AMAN SEKADAU- SANGGAU)-Kalimantan Barat, AMAN Bengkayang Singkawang Sambas (AMAN BENGSIBAS)-Kalimantan Barat, Aliansi Relawan untuk Penyelamatan Alam (ARuPA), Perkumpulan Organisasi Pemuda-Pemudi Bombat, LSDP INPERS, Yayasan Wisnu, Yayasan Santiri,  AMAN Flores Tengah, Yayasan KOPPESDA dan LPPM Maluku.

Bacth kedua sedianya akan berlangsung pada 16 - 20 September 2019 di Jakarta.