Penguatan Lembaga Adat Bar Padaido Dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam Pesisir
Penguatan Lembaga Adat Bar Padaido Dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam Pesisir
  • DGM Indonesia (A)
  • February 23, 2022
Gambar dari judul : Penguatan Lembaga Adat Bar Padaido Dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam Pesisir

Kelompok peserta pelatihan dari kampung Sasari dan Anobo. (Kainkain Karkara Byak)

 

Oleh Kumeser Kafiar dan Apolos Mamoribo, Kainkain Karkara Byak

 

Ekosistem Kaya

Kepulauan Padaido terletak di sebelah timur Pulau Biak, tepatnya di Teluk Cendrawasih, Papua. Penduduk asli disebut orang Padaido atau Anobo Padaido yang terbagi ke dalam sejumlah marga-marga. Mereka adalah satu dari 9 sub suku (Bar) di Suku Biak. Sejarah mencatat bahwa sebagian besar masyarakat Padaido bermigrasi dari Pulau Biak karena perang suku. Mereka pindah dan menetap di Pulau Bromsi dengan kampung pertama bernama Saribra. Setelah aman di Saribra, mereka menyebar ke pulau-pulau lain untuk berkebun dan menetap. Penduduk pertama inilah sebagai pemilik pulau-pulau yang berada di Kepulauan Padaido.

Ekosistem pesisir dan pantai Kepulauan Padaido sangat kaya. Mangrove yang ditemukan berjumlah tujuh jenis, yaitu Bruguiera gymnorhiza, Rhizophora apiculata, R. stylosa, Sonnetaria alba, Ceriops tagal, Lumnitzera littorea, dan Avicenia alba. Ekosistem laut, perairan dan pesisir merupakan pusat-pusat keanekaragaman hayati. Terdapat 90 jenis karang yang tergabung dalam 41 genus dan 13 famili serta beberapa jenis karang lunak seperti Sinularia polydatil, Sacrophyton trocheliophorum, Labophytum strictum dan L. Crassum.

Ditemukan kurang lebih 127 jenis ikan target (konsumsi), 34 jenis ikan indikator, 185 jenis ikan mayor (lainnya). Rumput laut ditemukan kurang lebih 58 jenis dimana 11 jenis bernilai ekonomis penting, seperti Euchema, Gracilaria, Hypnea, Laurencia, Gelidiella, Halimenia, Caulerpa, Codium, Chaetomorpha, Sargassum dan Turbinaria. Teripang merupakan jenis echinodermata bemilai ekonomis penting, Teripang Pasir (Holothuria scabra) dan Teripang Nanas (Stichopus ananas) banyak dipasarkan oleh masyarakat.

Kepulauan Padaido juga merupakan rumah bagi beberapa burung indah seperti Kakatua Putih Jambul Kuning (Cacatua galerita), Alap-alap Putih (Accipeter novaehollandia), Nuri Kepala Hitam (Chalcopsitta atre), Nuri Merah (Charmosyna placentis), Jalak Ekor Panjang (Aplanis magna brevicauda), Dara Laut (Heliaeetue leucogaster), Camar Laut (Sterna hirundo), Elang Laut (Pandion haliaetus), dan Bangau (Engretta sacra).

Kekuatan nilai sosial dan penghormatan terhadap adat masih sangat kuat diterapkan oleh masyarakat adat suku besar Biak. Kelembagaan adat Kainkain Karkara Biak yang dirangkai dari struktur adat asli merupakan salah satu warisan penting budaya orang Biak. Interaksi dengan alam dan spiritual menggunakan bahasa Biak sebagai pemersatu utama. Struktur sosial yang melekat kuat dari level Kainkain Karkara (kerajaan Biak), Bar (sub-suku), Sup Fyor (kelompok kampung di dalam Bar), Mnu (kampung) dan Er (Keret) masih dipegang kuat dan mempengaruhi interaksi sosial masyarakat.

Pemetaan wilayah adat, zonasi tradisional dan wilayah kelola tradisional masyarakat adat di Kepulauan Padaido telah dilaksanakan dengan difasilitasi oleh RUMSRAM dan Locally Managed Marine Areas (LMMA). Sudah dilakukan dua tingkat pengesahan, yaitu secara adat berdasarkan kesepakatan adat yang kemudian diumumkan di gereja dan pengesahan secara legal melalui Surat Keputusan (SK) Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia No 62 Tahun 2014 Tentang Rencana Pengelolaan dan Zonasi Taman Wisata Perairan Kepulauan Padaido Tahun 2014-2034. Zonasi adat dituangkan di dalam peta yang menjadi lampiran SK Menteri tersebut. Peta zonasi ini menggambarkan pengetahuan dan kearifan lokal masyarakat adat Padaido dalam pemanfaatan sumber daya alam.

Sebagian besar penduduk di Kepulauan Padaido bekerja sebagai nelayan tradisional yang menangkap dengan mengunakan alat tangkap sederhana berupa pancing dan jaring insang dengan mengunakan perahu motor. Disamping melaut, mereka juga berkebun; kelapa, ketela pohon, umbi-umbian. Beberapa masyarakat mendapatkan penghasil sebagai aparat kampung, tenaga medis, tenaga guru maupun penginjil. Sebagian penghasilan masyarakat di kampung berasal dari keterlibatan dalam proyek-proyek pemerintah di kampung.

Dukungan DGMI

Dengan dukungan pendanaan DGMI kepada Kainkain Karkara Byak selama Desember 2020 hingga Mei 2021 berhasil dilaksanakan beberapa kegiatan berikut:

  • Pembentukan Badan Usaha Milik Masyarakat Adat (BUMMA). 
  • Penyusunan rencana bisnis. 
  • Pelatihan pengembangan usaha pariwisata, produk ikan, dan usaha teripang.

Hasil-hasil yang didapatkan;

  • Masyarakat adat di 5 kampung (Saribra, Padaido, Yeri, Anobo dan Sasari) masing-masing memiliki kelembagaan adat dan struktur yang terisi. Juga memiliki kelembagaan adat tingkat wilayah Bar Padaido dengan struktur terisi dan memiliki unit usaha yang didaftarkan ke Kamar Adat Pengusaha Papua, Kabupaten Biak Numfor.
  • Anggota badan usaha memiliki rencana usaha. Terdapat 5 kelompok di 5 kampung dan setiap kelompok terdiri dari 10 orang. Total 50 orang yang telah mengikuti pelatihan meningkatkan kemampuan dan lanjut mempraktekan usaha pengelolaan parawisata, ikan dan teripang.

Mitigasi resiko degradasi ekosistem

Di sekitar wilayah Paidado makin marak praktek-praktek pemanfaatan hasil bumi tidak ramah lingkungan. Mulai terjadi degradasi ekosistem alam terumbu karang, mangrove, padang lamun dan pantai berpasir akibat aktivitas perikanan menggunakan bom dan potasium, penambangan pasir, dan pengangkatan batu karang untuk bahan bangunan. Ini akibat minimnya kesadaran (awareness) serta keterbatasan pengetahuan dan pemahaman teknik pemanfaatan hasil laut ramah lingkungan.

Intensitas kerusakan terumbu karang di Kepulauan Padaido akibat penggunaan bahan peledak/bom, pembiusan, badai, tsunami/gempa bumi, jangkar perahu/kapal, abrasi termasuk dalam kategori tinggi. Munculnya pilihan baru sumber pendapatan dari penambangan karang batu dan pasir laut untuk kebutuhan pembangunan fisik menjadi ancaman bagi ekosistem. Selain itu, masih terjadi perburuan satwa seperti kuskus dan burung untuk dimakan dan dijual.

Dalam musyawarah-musyawarah pembentukan kelembagaan adat, tim Kainkain Karkara Byak memperteguh tujuan terbentuknya kelembagaan adat di tingkat kampung dan wilayah kepulauan yakni untuk mengatur pemanfaatan sumber daya alam secara lestari. Kelembagaan adat diharapkan dapat merumuskan dan melaksanakan aturan adat tentang pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam di Kepulauan Padaido. Rencana kerja 2021 untuk merumuskan dan melaksanakan aturan adat tentang pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam terpaksa ditunda akibat kondisi COVID.  Ini akan menjadi program kerja lanjutan.

Selama ini sanksi adat sudah diberlakukan bagi yang melakukan pelanggaran lingkungan sosial. Mananwir Er dan Mnu sebagai kepala adat marga dan kampung berperan sebagai hakim adat yang berperan mengadili. Pengadilan adat tidak mengenal hukuman penjara tetapi memberlakukan hukuman ganti rugi. Jika seseorang mencaplok hak tanah orang, maka pengadilan memutuskan untuk mengembalikan hak tanah itu. Jika ia mengambil atau menebang pohon yang dilarang maka ia dihukum dengan membayar denda dan menanam pohon di lokasi tersebut. Jika ia mencuri milik kepunyaan orang, maka ia dikenai denda dan mengembalikan hasil curiannya.

Untuk menjaga kelestarian sumber daya alam pesisir dan laut telah disiapkan sistem zonasi dan aturan pemanfaatan. Namun, ini belum dituangkan dalam peraturan tertulis yang formal. Pelarangan yang ke depan akan terus diupayakan penegakkannya yakni larangan menggunakan bom rakitan untuk mencari ikan, larangan mengunakan mesin kompresor untuk menyelam menangkap ikan, teripang dan lobster. Sanksi terhadap pelaku perusakan pesisir dan laut semestinya juga diproses di peradilan adat dengan hukuman denda berupa pembayaran sejumlah uang, bersumpah adat tidak mengulangi lagi perbuatannya dan tidak mendapatkan alokasi bantuan untuk kegiatan perikanan dari pemerintah kampung. Pelaku perusakan diumumkan di gereja dan dilaporkan ke polisi.