Ekowisata Danau Framu dan Budidaya Ikan Hias
Ekowisata Danau Framu dan Budidaya Ikan Hias
  • DGM Indonesia (A)
  • February 23, 2022
Gambar dari judul : Ekowisata Danau Framu dan Budidaya Ikan Hias

Danau Ayamaru. (Marten Sakossa/SAVE AYAMARU LAKES)

 

Oleh Marthen Atanay, Komunitas Save Ayamaru Lakes

 

Ekosistem danau karst

Kampung Framu dan Aves berlokasi di Distrik Ayamaru, Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat. Lokasi ini lebih familiar dengan nama Danau Ayamaru atau Danau Framu. Jaraknya sekitar 216 km atau 4-5 jam berkendara dari kota Sorong. Danau Ayamaru terdiri dari danau-danau mungil Jow, Semitu, dan Yate yang bersinambung membentuk kaskade di satu daerah aliran sungai (DAS) Ayamaru. Ketiga danau ini bertipe paternoster lake atau dalam istilah limnologi merupakan rangkaian danau serupa tasbih di elevasi yang menurun secara bertahap. Danau dengan luas danau 980 hektar dan kedalaman maksimum 6 meter ini berada di hamparan karst (gamping atau kapur) yang dikenal sebagai Plato Ayamaru di ketinggian 280-238 meter diatas permukaan laut (mdpl). Hamparan perairan selagi musim hujan berubah menjadi kolam-kolam kecil dangkal saat kemarau. Hamparan daratan yang terbentuk di sebagian wilayah perairannya ditumbuhi flora semi-akuatik. Kondisi ini mirip danau-danau paparan banjir (flood plain lakes) di Kalimantan yang mengalami fluktuasi muka air sejalan pola banjiran sungai-sungai yang mempengaruhinya.

Ikan endemik danau Ayamaru terancam punah akibat aktivitas yang dilakukan di dalam dan di sekitar danau. Masifnya pembangunan, akses jalan terbuka, pembukaan hutan dan lahan untuk kebutuhan pembangunan (kampung dan kabupaten) dan aktivitas kebun berpindah memberikan tekanan dan gangguan bagi Danau Ayamaru. Selain itu, diangkatnya Danau Ayamaru sebagai salah satu lokasi destinasi wisata alam di Kepala Burung Papua merupakan ancaman terhadap kelestarian ekosistem.

Dukungan DGMI

Dengan dukungan dana DGMI (November 2020 hingga Mei 2021) Komunitas Save Ayamaru Lake (SAL) melaksanakan rangkaian kegiatan menyusun desain dan rencana pengelolaan ekosistem Danau Ayamaru untuk mendukung ketahanan pangan, konservasi ikan endemik, pengembangan wisata dan proteksi budaya. Belum jelas bagaimana integrasi perlindungan ekosistem Danau Ayamaru, pertanian untuk ketahanan pangan masyarakat, perlindungan adat budaya dan pengembangan pariwisata sebagai sumber pendapatan ekonomi masyarakat, termasuk membangun lembaga atau kelompok pengelola wisata dan melaksanakan perencanaan.

Kampung yang menerima manfaat proyek ini adalah Framu (berpenduduk 567 orang) dan Aves (berpenduduk 152 orang) berada di dalam wilayah adat suku Maybrat dari tiga marga (Solossa, Susim, Naa). Kegiatan budidaya ikan endemik dan ekowisata di dua kampung ini diharapkan akan berdampak positif pada kampung-kampung lain di sekitarnya.

Kegiatan yang dilaksanakan;

  • Menyusun desain dan rencana pengelolaan ekosistem Danau Ayamaru untuk ketahanan pangan, konservasi ikan endemik, pengembangan wisata dan proteksi budaya. Kegiatan dilakukan bersama pemuda adat, masyarakat dan dinas terkait (Dinas Pariwisata, Dinas Perikanan, Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Kehutanan). 
  • Pelatihan kewirausahaan untuk pemuda adat tentang budidaya ikan hias dan kelola wisata dan tindak lanjut menyusun rencana usaha. 
  • Memfasilitasi terbangunnya badan usaha milik pemuda adat beserta rencana bisnis pengelolaan wisata dan ikan hias endemik danau Ayamaru.

Mitigasi risiko ikan punah

Satwa endemik Ikan Pelangi Melanetanio Boesemani (Sekiak, rainbow fish) selalu diburu oleh pembeli–pembeli ilegal yang datang tanpa permisi kepada masyarakat setempat. Perburuan ini sudah menjadi aktivitas sehari-hari. Ikan Pelangi ini kini sudah terancam punah. Panen tidak terkendali sehingga populasi bisa habis.       

Skema yang dilakukan oleh kelompok komunitas Framu dan Aves adalah memanfaatkan potensi-potensi lokal untuk dikembangkan dan dibudidayakan pada tambak dan keramba.

Desain keramba dan tambak ikan hias dibuat dengan menggunakan besi 5 inci, kawat dan kelambu. Penggunaan besi sebagai kerangka keramba untuk menghindari predator yakni ikan-ikan yang pemangsa, seperti gastor, nila dan lain-lain. Selain membuat keramba, juga dibuat tambak yang ditempatkan bersebelahan dengan lokasi keramba. Pembuatan tambak memanfaatkan kolam alami yang sudah ada dan dikeruk bagian tepinya, kemudian memasang kelambu pada saluran keluar air agar ikan tidak keluar.

Langkah mitigasi lain yang dilakukan adalah membuat aturan dan standar penjualan di tingkat kelompok. Akan dilakukan monitoring untuk memastikan tidak terjadi panen yang tidak sesuai aturan (ilegal). Dalam proses budidaya ikan hias masih bermasalah dengan teknis pembenihan. Dibutuhkan tenaga teknis atau pendampingan bagi komunitas. Untuk itu, SAL berkordinasi dengan beberapa ahli perikanan untuk mendapat pendampingan.

Skema lain dari konservasi ikan rainbow fish yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus manfaat konservasi adalah skema restocking, yakni dengan memasukkan ikan tersebut kembali ke habitat aslinya. Ini akan dilakukan oleh kelompok budidaya ikan hias, komunitas adat serta Dinas Perikanan. Inisisatif restocking ikan hias menjadi bagian penting dalam aturan kelompok komunitas terkait budidaya ikan hias. Dengan budidaya dan restocking, diharapkan ancaman hilangnya spesies endemik bisa diatasi dan populasinya bisa kembali seperti semula.