Memuliakan Alas Mertajati Tamblingan: Hutan Adat Lestari Berbasis Tradisi
Memuliakan Alas Mertajati Tamblingan: Hutan Adat Lestari Berbasis Tradisi
  • DGM Indonesia (A)
  • February 23, 2022
Gambar dari judul : Memuliakan Alas Mertajati Tamblingan: Hutan Adat Lestari Berbasis Tradisi

Kelompok pemuda mencari tanaman hutan langka. (YAYASAN WISNU)

 

Oleh Ni Made Puriati, Yayasan Wisnu

 

Hutan sumber air

Wilayah Adat Dalem Tamblingan dianugerahi danau Tamblingan, merupakan danau terdalam di Bali dan berkontribusi dalam penyediaan air di Bali. Secara topografi, Tamblingan merupakan daerah resapan dengan hutan yang masih lestari. Tamblingan juga dikenal dengan kawasan suci kuno dengan puluhan pura yang tersebar di sekitar hutan dan danau. Tamblingan ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam Buyan-Tamblingan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No 144/Kpts-II/1996 dengan luas 1.336,5 hektar dan dikelola Balai KSDA Bali.

Hutan di sekitar danau Tamblingan oleh masyarakat adat diberi nama Alas Mertajati; sumber kehidupan yang sesungguhnya. Hutan memiliki peran besar dalam menangkap air, selanjutnya air tersebut akan mengalir ke tanah-tanah pertanian dan perkebunan di bawahnya. Alas Mertajati juga merupakan sumber air untuk wilayah Jatiluwih yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia. Masyarakat Adat Dalem Tamblingan memuliakan air melalui ritual-ritual yang disebut piagem gama tirta. Di kawasan hutan bertebaran 17 pura atau pelinggih yang semua saling terkait.

Masyarakat Adat Dalem Tamblingan (ADT) penganut Wisnu Waesnawa meyakini bahwa segala sesuatu diawali dan diakhiri dengan air. Hal inilah yang mendasari kepentingan masyarakat menjaga kawasan hutan adat sebagai sumber air. Dalam struktur masyarakat adat ada yang disebut menega, yang mempunyai tugas khusus menjaga hutan (jaga wana) dan menjaga danau (jaga teleng). Menega terdiri dari orang-orang yang ditentukan berdasarkan keturunan dan tetap melaksanakan tugasnya sampai sekarang.

Dukungan pendanaan DGMI dimanfaatkan Yayasan Wisnu untuk memfasilitasi kepastian hak atas hutan. Pengajuan permohonan hutan adat kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 26 Februari 2021 dilakukan langsung oleh perwakilan ADT Catur Desa didampingi perwakilan Yayasan Wisnu dan BRWA (Badan Registrasi Wilayah Adat). Kelengkapan pengajuan mencakup dokumen peta, inventarisasi hutan, zonasi, serta rencana pengelolaan hutan adat. Koordinasi dan konsultasi langsung dilakukan dengan pihak kementrian terutama dengan Dirjen KSDAE dan Kasi Hutan Adat PSKL.

 

Degradasi ekosistem

Secara umum, permasalahan yang dihadapi hutan adat sebagai sumber kehidupan mengalami degradasi. Banyak pohon langka dan pohon besar yang hilang, sehingga kerapatan hutan semakin berkurang. Fungsi kontrol atas hutan oleh masyarakat masih lemah. Saat ini hutan adat Alas Mertajati berstatus sebagai kawasan Taman Wisata Alam Hutan Buyan-Tamblingan dan kawasan hutan lindung. Danau dan hutan di sekitarnya banyak didatangi pengunjung yang melakukan kegiatan wisata seperti berkemah dan foto pre-wedding. Kegiatan wisata ini bersifat privat dan tidak dapat dikontrol, sehingga secara tradisi dapat mencemari kesucian kawasan adat.

Pemahaman akan arti penting kelestarian dan kesucian kawasan Alas Mertajati semakin lemah. Hal ini berdampak pada perilaku dalam mengelola kawasan penyangga. Di beberapa titik saat ini difungsikan menjadi perkebunan bunga, termasuk pada daerah dengan kelerengan tinggi. Beberapa tahun belakangan sejak terjadi alih fungsi lahan, baik konversi tanaman keras menjadi tanaman bunga dan sayur maupun konversi lahan pertanian menjadi bangunan fisik, jika hujan cukup deras maka sebagian wilayah sering mengalami longsor dan banjir.

Pada tahun 2021 telah terjadi longsor yang mengakibatkan kerugian bagi masyarakat. Aktivitas masyarakat terhambat karena rusaknya jalan utama akibat banjir dan longsor. Kerugian juga dirasakan oleh masyarakat petani, yakni hilangnya sebagian atau keseluruhan lahan pertanian yang ada di lereng-lereng perbukitan. Kondisi ini menyebabkan petani kehilangan sumber penghidupannya. 

Perkebunan bunga pada lahan miring secara instan memang meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam hal pendapatan ekonomi. Namun, secara ekologi dan nilai-nilai tradisi telah mengubah keseimbangan; menyebabkan ketergantungan terhadap daerah lain untuk kebutuhan pangan, kesulitan pemenuhan kebutuhan upacara serta menurunkan kuantitas dan kualitas air yang bersumber dari hutan.

Melestarikan ekosistem alam

Kegiatan mengembalikan fungsi kawasan hutan dan kawasan penyangga dengan tanaman lokal.  Dilakukan dengan dua aktivitas yaitu pengembangan taman gumi banten pada kawasan penyangga dan penanaman (renaturing) pada kawasan hutan. Kegiatan penanaman kawasan hutan belum dilakukan, menunggu penetapan alas Mertajati sebagai hutan adat. Namun pengadaan tanaman langka yang mulai punah sudah dilakukan oleh anak muda ADT sebagai langkah persiapan sambil terus melanjutkan proses penetapan hutan adat.

Taman Gumi Banten adalah taman yang menyediakan jenis-jenis tanaman yang dibutuhkan untuk keperluan upacara, berupa bunga, daun, biji, umbi ataupun buah. Ada yang merupakan pohon keras seperti pohon cempaka, kemiri, jeruk limau, delima dan lainnya serta tanaman yang berumur pendek seperti bunga gemitir, empon-empon, sorgum, tebu, pisang dan lainnya. Saat ini telah ditanam dan dikembangkan taman gumi banten pada lahan seluas 2 ha.

Rencana semula, pengembangan taman gumi banten akan dilakukan pada lahan-lahan masyarakat pada kawasan penyangga. Namun, setelah dilakukan survey dan penjajakan terkait kesiapan pemilik lahan, ketersediaan lahan dan air serta akses bagi masyarakat umum untuk memanfaatkannya jika membutuhkan, tim di desa memutuskan untuk membuat taman gumi banten pada lahan seluas 2 ha milik umum, yakni lahan palaba/tanah adat milik Pura Puseh di Desa Munduk. Dengan menggunakan lahan umum maka semua masyarakat dapat memaanfaatkan taman gumi banten, terutama untuk kepentingan umum. Hampir seluruh lahan pada kawasan penyangga merupakan milik pribadi dan lebih parah lagi sebagian besar milik orang luar ADT, petani hanya sebagai penggarap.  

Kegiatan pengembangan gumi banten dimulai Februari 2020, tepat saat pandemi mulai merebak di Indonesia. Dimulai dengan pemetaan lahan, identifikasi tanaman upacara yang perlu ditambah dan sudah langka dan membuat rumah pembibitan. Berdasarkan hasil identifikasi yang dilakukan bersama tetua yang mengerti tentang tanaman untuk upacara, sedikitnya ada 30 jenis tanaman yang sudah langka dan perlu dilestarikan, diantaranya cempaka putih, cempaka merah, pucuk rejuna, jempiring, sandat lutung, kelapa mulung, kelapa gading, kelapa gadang, kelapa udang, kelapa bulan, kelapa biasa, pisang merah, delima putih dan merah,  jeruk nipis, jeruk purut, jeruk limau, mawar, tebu, sorgum, jali baas, akar wangi, tembakau, kapas, cemara, plawa, kemiri, kluek, aren, uduh, peji, gemitir, sirih, pinang, enau, mejagau, dan beberapa jenis bambu (kuning, suling, ampel).

Pada bulan Maret hingga Agustus 2020 dilakukan pengadaan dan pembibitan tanaman, sambil menunggu musim hujan. Kemudian, pada bulan September 2020 mulai dilakukan pengolahan dan penataan lahan. Proses yang dilakukan adalah pertama-tama menentukan lokasi, membuat sketsa pola atau bentuk taman, kemudian mulai pembongkaran lahan dan pembentukan pola. Seperti namanya, taman gumi banten, enak dilihat secara artistik dan bermanfaat untuk upacara dibentuk seperti taman.

Pada bulan Oktober 2020 ketika musim hujan tiba, dilakukan penanaman, pemupukan dan dilanjutkan dengan perawatan berkala seperti penyiangan, pemangkasan serta penanganan hama daun. Perawatan dan pemeliharaan dilakukan oleh salah seorang pengempon pura yang ditunjuk. Tanaman keras ditanam pada lahan lereng-lereng jurang dan bukit untuk menjaga lahan tidak longsor. Kelapa ditanam di lahan yang lebih rendah yang dapat diakses oleh masyarakat yang membutuhkan. Lokasi taman gumi banten berada di dataran yang cukup tinggi, sehingga tidak cocok untuk jenis kelapa lokal dan langka. 

Kegiatan penanaman di kawasan hutan disepakati akan dilakukan setelah Alas Mertajati ditetapkan sebagai hutan adat, sehingga sampai saat ini kegiatan penanaman belum dilakukan. Namun demikian, sebagian bibit lokal yang merupakan tanaman asli sudah mulai dibibitkan. Jenis bibit tanaman hutan langka asli diketahui setelah dilakukan identifikasi flora pada kawasan hutan. Tidak semua tanaman langka masih bisa didapatkan bibitnya di dalam hutan. Diperlukan waktu yang cukup lama untuk mencari bakal-bakal bibit langka ini di sekitar kawasan hutan. Untungnya, beberapa anak muda sudah memasuki hutan saat aktivitas pemetaan dan menemukan lokasi-lokasi tempat bakal bibit lokal asli yang perlu diperbanyak.

Kegiatan pengadaan tanaman langka ini dilakukan oleh anak muda, akan tetapi tidak semua tanaman langka bisa didapatkan. Dengan memasuki hutan Kembali, tentunya ke lokasi-lokasi yang sudah ditandai sebelumnya, kelompok pemuda mencari bibit jenis tanaman yang langka. Ada beberapa bibit tanaman langka yang sudah berhasil dibawa ke desa untuk dirawat di lahan pembibitan agar tanaman dipastikan tumbuh dengan baik. Perawatan bibit ini dilakukan oleh salah seorang warga di Desa Gobleg yang bersedia dan memiliki lahan yang cukup luas dengan ketersediaan air yang memadai sebagai lokasi pembibitan. Jenis-jenis tanaman langka yang berhasil dibawa ke tempat pembibitan meliputi: cemara pandak, kayu suwa, kalijeha, kayu sambuk, kejuang, gatep, lateng, juwet tenggeng, dan delima gunung. Namun, jumlahnya masih sangat sedikit, masih perlu terus diperbanyak karena hutan adat sebagai habitat alami tempat tumbuhnya masih cukup luas.