Meningkatkan Ekonomi Masyarakat dan Kelestarian Hutan Adat Negeri Ihamahu Saparua
Meningkatkan Ekonomi Masyarakat dan Kelestarian Hutan Adat Negeri Ihamahu Saparua
  • DGM Indonesia (A)
  • February 23, 2022
Gambar dari judul : Meningkatkan Ekonomi Masyarakat dan Kelestarian Hutan Adat Negeri Ihamahu Saparua

Walang, tempat pengolahan sagu yang berada di dalam kebun sagu. (WALANG PEREMPUAN)

 

Oleh Daniella Loupatty dan Elish Huwae, Yayasan Walang Perempuan 

 

Negeri di pesisir

Pulau Saparua adalah sebuah pulau kecil dan merupakan salah satu kecamatan yang terletak dalam wilayah administrasi Kabupaten Maluku Tengah. Memiliki luas 176 km², terdiri dari 16 negeri adat dan 2 buah kampung mandiri. Negeri Ihamahu merupakan salah satu dari 16 Negeri Adat di Pulau Saparua. Setiap negeri adat di Pulau Saparua, termasuk Ihamahu, memiliki teritorial atau disebut petuanan (ulayat). Wilayah petuanan tersebut dikuasai dan dikelola oleh masyarakat negeri adat masing-masing. Sebagian wilayah dipakai untuk pemukiman dan sebagian dikelola sebagai hutan adat.

Sejak tahun 2018, Yayasan Walang Perempuan (YWP) melakukan kegiatan pemetaan partisipatif di Negeri Ihamahu. Salah satu hasilnya adalah Negeri Ihamahu telah memiliki peta wilayah negeri yang diakui pemerintah daerah Maluku Tengah. Peta ini juga memperlihatkan lahan hutan dataran rendah yang hak kelolanya bisa didapatkan masyarakat adat. Negeri Ihamahu mewarisi beberapa   peninggalan   budaya   yang   kental   dengan   nuansa religi dan antikolonial yang dituangkan dalam  tradisi  adat  baik  kesenian  tari, permainan  maupun  ritual keagamaan. Jumlah penduduk Negeri Ihamahu sebanyak 1.613 jiwa yang terdiri dari penduduk laki-laki sebanyak 814 jiwa dan penduduk perempuan sebanyak 799 jiwa. Seperti masyarakat Maluku pada umumnya, masyarakat Ihamahu juga memiliki marga dan pertalian pela gandong dengan Negeri Ama Iha Ulupia, Amahei dan Liliboi.

Wilayah Negeri Ihamahu berupa daerah dataran rendah dan pesisir pantai dengan ketinggian 2 m di atas permukaan laut dengan luas total wilayah negeri ±1,411 ha atau ±14,11 km². Kondisi ini menjadikan Ihamahu memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah, baik dari daratan maupun lautan. Sumber daya alam yang berasal dari daratan berupa pohon sagu, kelapa, kenari, pohon mayang, cengkeh, pala dan tanaman umur pendek seperti sayur-mayur. Sebagai negeri di pesisir, sumber daya pesisir dan laut Ihamahu juga beraneka ragam, diantaranya aneka jenis ikan karang dan ikan laut lepas, teripang dan beberapa jenis moluska.

Mengolah bahan pangan

Selama ini masyarakat Negeri Ihamahu telah melakukan pengolahan pohon sagu menjadi beberapa produk makanan lokal, antara lain sagu tumang, sagu lempeng, bagea, sagu tumbu dan kue kering serut. Buah kenari dijual dalam bentuk buah mentah yang isinya diolah menjadi tambahan untuk produk makanan lokal, seperti bagea dan sagu tumbuh. Kelapa juga demikian, hanya dijual mentah untuk kebutuhan rumah tangga dan tambahan bahan pembuat bagea dan kue kering serut. Kelompok usaha pengolah sagu didominasi kaum perempuan, terutama yang sudah berumah tangga dan sebagian besar berumur 39–50 tahun.

Pengolahan sagu tradisional masih bertahan dengan produk-produk lama warisan dari generasi ke generasi. Masyarakat setempat belum mampu menghasilkan produk-produk inovatif. Produk makanan lokal yang diproduksi masih sangat tradisional baik dari sisi pengolahan, bentuk, varian dan kemasan. Sistem pengolahan produk masih mengunakan peralatan tradisional, seperti tungku batu bata untuk proses pembakaran, batu untuk alat pemecah kenari dan terpal untuk alas penjemuran tepung sagu. Selain itu, kemasan produk masih sederhana dengan hanya mengunakan plastik kiloan dan lilin sebagai perekat plastik dan belum ada label. Rasa dan tekstur dari hasil olahan ini belum memiliki standar baku, karena komposisi bahan hanya didasarkan perkiraan. Produk juga belum memiliki pangsa pasar yang luas. Pemasaran masih terbatas di tingkat kecamatan dan sebagian kecil dikirim kepada pedagang oleh-oleh khas Maluku di Kota Ambon.

Dengan dukungan pendanaan dari DGMI Yayasan Walang Perempuan mulai November 2020 hingga Juni 2021 melaksanakan kegiatan meningkatkan kapasitas ekonomi dan kelestarian hutan masyarakat adat melalui diversifikasi produk pangan olahan dengan menerapkan teknologi tepat guna.  Dengan proses produksi lebih efisien kedepan diharapkan lebih banyak produk unggulan desa yang mampu memberikan kontribusi bagi peningkatan mata pencaharian dan pendapatan masyarakat adat.

Pelaksanaan kegiatan mencakup;

  • Pelatihan pengembangan produk olahan sagu
  • Pelatihan pengembangan produk olahan kenari
  • Pengadaan peralatan produksi yang bertujuan untuk meningkatkan produksi, efisiensi waktu kerja dan meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk. Mencakup: mesin pengering, mesin spinner, solar dyer (pengering matahari), mesin parut kelapa, mesin parut sagu, dan oven gas 
  • Workshop pelatihan pengemasan produk, termasuk penggunaan dan perawatan mesin
  • Pelatihan manajemen keuangan dan bisnis untuk pengurus BUMNeg
  • Ujicoba pemasaran untuk 6 produk berbahan kenari dan sagu

Hasil-hasil kegiatan;

  • Semula ditargetkan 4 produk. Namun, dalam pelaksanaannya dikembangkan sebanyak 6 produk; sarut cappucino, bangket kenari, halua kenari, kenari bawang putih, bagea abon ikan dan tepung sagu. 
  • Terjadi peningkatan produksi. Pada awalnya kelompok Naraito hanya memproduksi sebanyak 20-40 bungkus untuk setiap produk tetapi setelah ada peralatan meningkat menjadi sebanyak 100-120 bungkus.
  • Sebelum pengadaan mesin parut sagu, produksi sagu mentah hanya 8-10 karung ukuran 25 kg. Sekarang menjadi 15-20 karung dalam 2-3 hari.
  • Waktu pengolahan sagu mentah menjadi lebih cepat karena tidak lagi meminjam peralatan dari pengolah yang lain. Sebelumnya, dalam seminggu hanya dilakukan satu kali pengolahan sagu. Sekarang dilakukan setiap 2-3 hari. 
  • Kepercayaan konsumen semakin meningkat karena produk telah memiliki ijin halal dari MUI dan PIRT dari Dinas Kesehatan. Semakin banyak permintaan pembelian produk baik dari kafe, hotel, mini market di kota Ambon dan dari penjualan online.

Mitigasi risiko lingkungan

Wilayah pesisir masih didominasi vegetasi mangrove, sedangkan dataran rendah berisi vegetasi sagu dan lahan kebun campuran yang di dalamnya terdapat beberapa jenis vegetasi, misalnya cengkeh, pala, kelapa, kenari, dan lain-lain. Lokasi ini juga termasuk hutan adat karena merupakan wilayah petuanan atau teritorial Negeri Ihamahu. Masyarakat dilarang menebang mangrove. Namun, aktivitas pengambilan pasir dan batu dipantai masih dilakukan untuk kebutuhan pembangunan rumah dan tidak untuk dikomersilkan. Aktivitas penebangan pohon masih juga dilakukan untuk keperluan pembuatan rumah masyarakat yang dekat dengan sumber air.

Masih ada pranata adat berupa SasiSasi adalah larangan untuk mengambil hasil baik di darat maupun di laut dalam kurun waktu tertentu. Tujuannya untuk melestarikan alam atau konservasi. Kewang sebagai salah satu lembaga adat yang bertugas untuk menjaga petuanan negeri dan sebagai pelaksana sasi.

Untuk keberlanjutan habitat sagu maka akan didorong program penanaman kembali paska penebangan guna kegiatan produksi melalui program pembagunan desa.  Diversifikasi produksi usaha sagu diharapkan akan berkontribusi terhadap kelestarian sagu, kenari dan kelapa. Masyarakat akan menjaga dan melindungi hutan dari penebangan pohon produktif, seperti sagu, kelapa, kenari dan tanaman pohon lainnya karena bermanfaat secara ekologi dan ekonomi.

Tanaman sagu selain digunakan untuk bahan makanan, daunnya dipakai untuk atap rumah, sehingga ada larangan untuk tidak mengambil dahan sagu secara berlebihan demi menjaga ekosistem sagu tersebut. Selain itu, masyarakat juga harus menjaga kebersihan di area sekitar sagu dari tanaman liar yang dapat merusak tanaman sagu.